Selamat menikmati catatan terbang Elangsendiri. Bila berkenan, sila tinggalkan rekam jejak terbangmu dan catat sebagai rekan penerbangan anda. @aliepodja

Kuliner Bercorak India di Palembang

Anda tidak perlu menjawab jika saya bertanya, "kuliner khas Palembang?"
Pempek tentu menjadi jawaban utama. Maka, ketika sudah di kota homebase Sriwijaya FC ini pun saya bergegas menikmati sajian Pempek dan cuko, si bumbu pasangan sejatinya. Tak ketinggalan, lidahpun meminta Tekwan turut serta. Nyummy.

Sebenarnya, tidak perlu kesini untuk menikmati Pempek. Beberapa kali singgah ke ibukota, rekan @adilhasan7 yang tinggal di Palembang hampir pasti membawakan Pempek. 

Martabak HAR dalam proses penggorengan.
Maka saya mencari kuliner lain. Dipandu beberapa rekan, tibalah di rumah makan HAR. Terletak di bilangan Jenderal Sudirman, rumah makan ini menempati salah satu dari beberapa deretan ruko usang.

Berdiri sejak tanggal 7 Juli 1947, rumah makan ini mudah dikenali lewat ikon dan akronim Haji Abdul Razak yang menjadi namanya. Saya memesan seporsi martabak HAR, salah satu menu andalannya.

Jembatan Ampera yang memikat

Saya sampai di tepian musi tepat saat awan senja berarak, mendampingi mentari yang perlahan menghilang. Lampu-lampu jalan mulai menyala, pengeras suara mendendangkan lantun ayat suci menunggu kumandang adzan maghrib.

Baru kali ini saya menginjak tanah nagari kito galo; beruntung, rekan @adilhasan7 sudah tinggal di Palembang setahun terakhir. Ia memandu ke beberapa destinasi pilihan saya, salah satunya tentu Jembatan Ampera yang melintang di atas sungai Musi.

Duduk menghadapi sungai, kami memandang ke arah jembatan. Lampu-lampu hias mulai berpendar; warna-warni. Dari kejauhan, berlawan arah, terlihat penanda restoran masakan laut milik seorang artis kenamaan putra aseli daerah.

Benteng Kuto Besak (c) @aliepodja
Saya menyusuri boulevard depan Benteng Kuto Besak ini. Bangunan pusat kesultanan Palembang kuna itu nampak angkuh dan tegak. Kini, bangunan digunakan angkatan bersenjata republik.

Saya berjalan menuju jarak pandang terbaik dengan jembatan; meninggalkan Adil yang nampak asyik dengan piranti selulernya, memotret kanan-kiri.

Batik Warga Cablaka

Saya beruntung dapat pinjaman sepeda motor dari teman semasa kuliah. Meskipun berasal dari kota yang sama, kami baru kenal semasa studi di Semarang. Karena tidak ada 'orang rumah' yang bisa naik motor, jadi kami ga punya motor pribadi. Toh kemana-mana bisa pake supir (angkot) pribadi. Jadilah saya dan @dyanhoed berputar-putar kota, maklum kangen juga jarang klayapan di rumah.

Setelah isi bensin sebentar di kawasan kampus Unsoed, kami melewati Jl HR Bunyamin, berbelok ke Doka (Jl dokter Angka) menuju lalu menuju utara lewat Jl Kesatrian. Berputar di tugu mungil depan SMA 1 Gatsu, lalu menapaki jalur angkot A1. Kami memilih terus ke barat, rencananya ke Alun-alun kota. 


Lewat di Jl Kranji, sebuah spanduk besar menarik kami; 'Batik Banyumasan' tertulis jelas disertai beberapa foto motif kain batik. Ah, baru kali ini saya lihat. Dan kamipun mampir. 

Sepi; butik batik mungil ini cukup senyap. Seorang menyapa kami, entah pemilik atau sekedar penjaga toko. Kami pun terlibat percakapan singkat tentang 'batik Banyumasan'.

Sudah dua tahunan butik berdiri; dan selama beberapa tahun terakhir saya memang tidak melewati jalan kecil ini, wajar bila saya baru mengetahui keberadaannya. Meski ada rekan yang punya sampingan bisnis batik serupa.

Soto Gading, soto daging lezat

Setelah menunggu hampir satu jam di Stasiun Balapan, akhirnya Luky @lukycheemuudy dan @dyanhoed datang, hampir bersamaan. Aku yang sudah lapar hanya meminta sarapan yang menggoyang lidah sabtu pagi. Cacing di perutku sudah mulai bernyanyi. Sepanjang perjalanan, aku pulas; melewatkan makan malam yang aku rencanakan di Cirebon. hiks

Aku tak menolak ketika dipandu ke kedai soto di kawasan gading. Inilah Soto Gading yang famous itu. Konon presiden yang berkuasa saat ini pun sempat singgah saat kampanye pemilihannya beberapa tahun silam. Kini, mungkin sudah lupa dia. 

Semangkuk soto ayam dan teh manis hangat aku pesan. Suwiran daging ayam, so hun, irisan tipis kentang goreng, taburan daun seledri dan bawang merah goreng mewarnai kuahnya yang bening saat dihidangkan. Agak aneh memang, karena biasanya aku mengenal soto yang berkuah gelap; Soto Kudus salah satunya.

Meski tersaji pula sosis basah ala Solo, tempe dan tahu goreng, aku tetap menyantap soto tanpa kawan lain. Aku tambahkan sedikit kecap setelah mencicip kuah beningnya. Jeroan sapi, empal daging, sate usus ayam, sate telur puyuh, hingga perkedel pun tersedia.

Jika anda pejalan yang menyukai waktu santap di kedai yang bersih dan modern, Soto Gading ini tidak mengecewakan. Tempat yang luas, letaknya yang dekat dengan pusat kota, dan penataan interior kedai mendukung suasana santapan. Selepas sarapan cepat, aku bergegas menuju tujuan selanjutnya: Klenteng Pasar Gede dan Kraton Solo.